Proudly Lasallian
UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018

TUHAN DAN MODERNISASI

2017-03-21 14:53:29 - Posted by admin - Hits : 361 TUHAN DAN MODERNISASI

Tuhan dan Modernisasi adalah dua perbedaan yang amat sangat jauh. Tuhan sebagai Pencipta dan Modernisasi adalah Akibat dari penciptaan itu. Semenjak manusia mampu untuk menciptakan, menemukan dan membuat banyak hal yang sebelumnya tak dapat di lakukan, manusia merasa bahwa dirinyalah Tuhan. Modernisasi membuat masyarakat yang terlalu sibuk dengan karir dan pekerjaan yang menguntungkan dirinya, lebih memilih untuk tidak lagi ingin mengenal seorang Pribadi yang sering kita sebut sebagai Yang Maha Kuasa. Mengapa hal itu dapat terjadi? Mengapa manusia semakin hari semakin mengandalkan dirinya ketimbang mengandalkan Tuhan yang telah di percayai turun temurun oleh nenek moyang mereka? Apakah karena manusia sudah cukup baik untuk mengatur dan sudah sangat mandiri untuk melakukan segalanya?

Sejarah telah mencatat bahwa banyak filsuf dan ilmuwan besar yang sampai akhir hayat mereka tetap konsisten untuk tidak memberi tempat bagi Tuhan di dalam hidup mereka, salah satunya adalah Friedrich Nietzsche semboyan paling terkenal darinya adalah “Tuhan sudah mati”. Nietzsche secara terang-terangan menolak Tuhan dalam hidupnya, tetapi sejarah mencatat, saat dia jatuh sakit dan sudah sangat sekarat terbaring di ranjangnya, ia mengucapkan kalimat yang sebenarnya bagi seorang atheis adalah keburukan dan  dianggap tidak sungguh-sungguh dalam komitmennya, Nietzsche memanggil nama Tuhan.

Orang-orang besar lainnya dengan pemikiran yang tajam serta pemahaman yang dalam tentang ilmu pengetahuan seperti Sigmun Frued, Hegel, dan Karl Marx, menyingkirkan pemahaman tentang Tuhan dalam hidup mereka. Ketika membaca orgin of species yang di tulis oleh Charles Darwin, disana kita hanya akan menemukan pemahaman ilmiah yang mendalam dan terstruktur tentang kehidupan mahluk hidup, tanpa adanya campur tangan Tuhan di dalamnya, semua berlangsung secara evolusi. Seorang atheis meyakini bahwa kehidupan berlangsung setelah ledakan besar (Big Bang), atom-atom yang berinteraksi sehingga menghasilkan suatu senyawa yang mengakibatkan terbentuknya DNA manusia. Dengan cara inilah para atheis menjelaskan bagaimana proses terbentuknya manusia tanpa diciptakan atau disebabkan oleh suatu Kuasa apapun.

Modernisasi membuat manusia lebih senang untuk melakukan segala sesuatu secara instan, manusia akan selalu menginginkan hal-hal yang mudah dan tidak berbelit, sehingga tak heran bila anak muda zaman sekarang lebih memilih berjam-jam di depan komputer untuk bermain game ketimbang duduk sebentar untuk mendengarkan ceramah di tempat ibadah. Kita tak dapat memungkiri hal ini, teknologi yang semakin maju membuat seseorang yang ingin mengetahui berita hari ini, tinggal mengetik saja dan sudah bisa mendapatkan informasi dari berbagai belahan dunia dalam hitungan detik. Betulkah Tuhan masih dibutuhkan? Jika Ia masih dibutuhkan apa yang akan kita perbuat? Jika Ia sudah tak dibutuhkan mampukah manusia untuk tetap berjalan dalam kegelapan?

Kenapa yah negara-negara Barat seperti Belanda, Jerman, Amerika dan negara kristen lainnya yang dulu mengirim begitu banyak misionaris justru sekarang telah menjadi negara-negara paling sekuler? Contohnya misionaris Belanda yang membawa injil masuk ke tanah Papua adalah misionaris berkebangsaan Jerman yang telah lama tinggal di Belanda untuk belajar penginjilan, misionaris yang membawa injil masuk ke minahasa adalah utusan yang di didik di Belanda untuk menginjili. Apa sebenarnya yang terjadi dengan gairah untuk mewartakan injil? Apakah kekristenan di Barat akan tenggelam begitu saja? Saya rasa jawabannya adalah, setelah sekian abad berlalu, terjadi pergantian generasi.  Kesalahannya ada pada generasi sebelumnya yang tidak memberitakan injil ke generasi yang lebih muda, sehingga api penginjilan serta gairah penginjilan mulai padam, dan akhirnya banyak generasi yang lebih muda bangkit lalu memilih untuk tidak menerima injil karena sebelumnya mereka tidak diajarkan. Yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya, sekarang pendeta-pendeta di Indonesia malah pergi ke luar negeri untuk mewartakan injil.

Disini saya menulis tidak untuk membuat anda makin beriman atau membuat anda percaya. Saya hanya ingin memaparkan kenyataan dunia di sekitar kita, dimana Tuhan tak lagi diakui sebagai Tuhan. Menurut penelitian, di masa depan semua agama akan ditiadakan/dihapuskan. Akar konflik dunia selama ini berlangsung karena masalah agama, oleh sebab itu di masa depan nanti mungkin kita tidak akan lagi memiliki agama. Sejak saat itulah manusia tidak akan lagi bersandar pada hal-hal yang bersifat supranatural, manusia akan lebih senang dengan fakta-fakta empiris, yang dapat dilihat dan dirasakan, akhirnya semua orang akan sepakat dengan Karl Marx bahwa Agama hanyalah candu rakyat. Seperti yang di katakan juga oleh Sigmun Frued : Kepercayaan akan Tuhan hanyalah ilusi yang harus ditinggalkan oleh manusia dewasa ini”.

Tetap setialah dan jangan meragukan kepercayaanmu kepada Tuhan. Tetaplah konsisten dengan apa yang kau yakini.

© Maret 2017                                                                                                                                                          B. Jeremy (Mhs Teknik Elektro)




Related News :
Comment