Proudly Lasallian
UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018 - UNIKA De La Salle Manado Menerima Mahasiswa Baru TA 2017-2018

AHOK DAN PERISTIWA 411, MEMAHAMI SECARA POSITIF

2016-11-17 13:38:17 - Posted by admin - Hits : 626 AHOK DAN PERISTIWA 411, MEMAHAMI SECARA POSITIF

      “Bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan ga bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gapapa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu ga usah merasa ga enak. Dalam nuraninya ga bisa pilih Ahok”.

Pernyataan di atas merupakan pernyataan seorang tokoh yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir masyarakat, diantaranya mengenai hal-hal yang ia lakukan, mapun yang ia ucapkan. Tokoh yang mendatangkan decak kagum maupun mendatangkan kegelisahan karena keberanian dan ketegasannya dalam memberantas korupsi di kalangan pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama adalah nama lengkapnya. Gubernur DKI Jakarta yang familiar disapa Ahok ini kini mejadi sumber pembicaraan maupun pemberitaan di berbagai media, menyusul pernyataannya tentang Surat Almaidah 51 di depan para pejabat dan pegawai serta masyarakat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Adminstrasi Kepulauan Seribu. 

Ucapan Ahok berbuntut panjang hingga kemudian dilaporkan kepada pihak berwajib dengan tuduhan telah menghina dan menistakan agama. Ahok yang sadar akan ucapannya tersebut segera memberikan tanggapannya. Ahok menyatakan bahwa dari pernyataannya tentang Surat Almaidah tidak sedikitpun bermaksud untuk menyinggung apalagi menghina suatu kepercayaan/ agama. Sebab menurutnya, justru banyak pejabat atau oknum-oknum tertentu yang menggunakan Surat Almaidah 51 sebagai alat untuk membuat masyarakat percaya dan memilih mereka. Ahok juga memberikan contoh bagaimana seorang dari agamanya yang berusaha membuat ayat-ayat dalam Alkitab menjadi alat untuk mencapai kepentingan diri mereka. Atas pernyatannya tersebut di atas, Ahok telah menyampaikan permintaan maafnya kepada semua pihak, khususnya kepada umat muslim yang merasa dirugikan.

Sebuah pernyataan yang terlanjur telah menyakiti sebagian orang tentunya tidak bisa selesai dengan permintaan maaf, apalagi telah bermuara pada laporan resmi kepada penegak hukum dengan tuduhan penghinaan/ penistaan agama. Sekelompok orang yang merasa dirugikan atas pernyataan Ahok menunjukan protesnya dalam bentuk demonstrasi pada Jumat, 4-11-2016 di Jakarta. Indonesia adalah negara hukum. Setiap orang berhak menempuh jalur hukum serta harus menghormati proses hukum yang sedang berlangsung atas sebuah peristiwa. Peristiwa hukum yang berawal dari pernyataan Ahok dipandang sebagai suatu bentuk penghinaan terhadap agama.

Agama adalah pencarian manusia akan Tuhannya. Agama yang dianut oleh seseorang menggambarkan jati diri dari orang tersebut. Kita dapat mengetahui seorang Muslim dari cara berpakaiannya, kita juga dapat mengetahui seorang Kristen dari cara berpakaiannya. Cara berpakaian saja sudah dapat mencerminkan jati diri dari seorang yang menganut agama tertentu. Apa yang terjadi bila jati diri kita dinodai atau dikotori oleh orang lain? Pasti kita akan marah, dan berusaha untuk mencari keadilan demi menegakkan kembali jati diri kita yang telah dinodai.

Lalu apa sebenarnya agama itu? Kenapa kita harus membela agama kita? Bagaimanakah jika kita salah soal pembelaan yang kita buat? Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita benar dan orang yang menodai agama kita salah? Mungkin saja mereka berusaha untuk membetulkan cara pandang kita yang salah, hanya saja kita yang salah menanggapinya, ataukah mungkin mereka sengaja untuk menodai agama kita?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak perlu diperdebatkan. Di dalam perbedaan Indonesia ada yang namanya “Bhinneka Tunggal Ika”, walaupun kita berbeda Agama, Ras, Suku, dan Bahasa tetapi kita dipersatukan dalam satu negara, yaitu Indonesia. Jadi sejauh apapun kita berdebat, tanpa adanya “Bhinneka Tunggal Ika”, kita tidak pernah pantas untuk berdebat. Mungkin ajaranmu berbeda dengan ajaranku, mungkin tradisimu berbeda dengan tradisiku, mungkin warna kulitmu dan struktur rambutmu berlainan dengan struktur dan warna kulitku, mungkin bahasamu berbeda dengan bahasaku, tetapi di dalam diri kita ada kesatuan. Negara kita di dasari oleh Persatuan. Tidak perlu ada debat soal Agama. Jalani saja kehidupan ini dengan penuh damai satu dengan lainnya. Sebab dari awal negara ini didirikan tujuannya tetap sama yaitu, untuk mendatangkan kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Jika kita mencoba memahami secara positif, inti dari pernyataan Ahok adalah memberikan pemahaman bahkan pencerahan mengenai bagaimana menentukan pilihan dalam konteks Pemilukada. Alasan seseorang memilih Calon Gubernurnya seharusnya didasari oleh alasan yang logis dan masuk akal. Bahwa jangan sampai memilih atau tidak memilih seseorang hanya karena berbeda, misalnya berbeda agama. Pemahaman ini sangat penting untuk disampaikan kepada masyarakat sebagai para calon pemilih, agar tidak mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang sebenarnya tidak suka dengan salah satu Calon Gubernur. Mayarakat harus lebih cerdas dalam memberikan alasan mengapa menjatuhkan sebuah pilihan. Ahok ingin menjelaskan bahwa jangan sampai ayat kitab suci dijadikan alasan atau dasar untuk tidak memilih seorang Calon Gubenur karena perbedaan agama.

Lalu masalahnya dimana sebenarnya? Jika kita melihat dari sudut pandang yang negatif hasilnya akan selalu negatif. Sama seperti seorang kaya yang hidup berdampingan dengan seorang yang miskin. Pada suatu hari listrik di daerah rumah mereka padam, dan orang kaya yang tinggal sendirian di rumahnya memilih untuk tidak memasang lilin, karena ia tidak mau orang miskin di sebelah datang meminta lilin kepadanya. Tiba-tiba ada yang datang mengetok pintu rumah orang kaya itu. Ketokan semakin keras dan orang kaya itu tidak membukanya, sebab di pikirannya pasti orang miskin yang datang untuk meminta lilin. Lama-kelamaan ketokan pintu semakin keras hingga akhirnya orang kaya itu dengan berat hati membukanya, lalu ia melihat seorang anak kecil dengan pakaian yang lusuh sedang memegang lilin, dan dengan nada polos anak kecil itu berkata kepadanya, “kak ini lilin untuk kakak, ibu menyuruh saya memberikannya kepada kakak, soalnya dari tadi rumah kakak terlihat gelap, jadi kami ingin pastikan kalau kakak ada penerangan di rumah”. Betapa terkejutnya orang kaya itu, dia berpikir orang miskin tadi ingin meminta lilin padanya, padahal merekalah yang datang memberikan lilin untuknya.

Sama halnya dengan kita ketika kita memandang sesuatu dari keburukannya, sampai kapan pun hal itu bagi kita akan terus merupakan hal buruk. Namun jika kita melihat dari sudut pandang yang baik pasti hasilnya akan baik pula. (Jeremy B – Mahasiswa Teknik Elektro)

 “TIDAK PENTING APA PUN AGAMA ATAU SUKUMU. KALAU KAMU BISA MELAKUKAN SESUATU YANG BAIK UNTUK SEMUA ORANG, ORANG TIDAK PERNAH TANYA APA AGAMAMU”

(GUS DUR)




Related News :
Comment