Proudly Lasallian
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Katolik De La Salle Manado sampai dengan 31 Agustus 2018

Budaya Cinta dan Pelayanan

2014-02-18 14:45:53 - Posted by admin - Hits : 2403

 

Bulan Februari selalu dikaitkan dengan hari Valentine, yang dikenal dengan hari kasih sayang. Sekalipun Valentine day selalu dikaitkan dengan romantisme cinta sepasang kekasih untuk mengungkapkan kasih sayangnya di hari ini, tentu saja kita dapat memaknainya lebih dalam lagi.

Dikatakan dalam Injil Yohanes 15:13 “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-habatnya”. Dengan demikian, ungkapan kasih yang paling dalam adalah pemberian diri seutuhnya.

Barangkali ada yang bertanya: “kalau semuanya saya berikan, apalagi yang tersisa untuk saya?”. Disinilah bedanya antara memberi supaya saya diberi (balas jasa) dengan memberi setulus hati. Cinta yang tulus bukanlah sebuah transaksi. Cinta yang tulus semestinya melampaui sebuah transaksi.

Budaya cinta transaksi ini kiranya perlu disadari dan disikapi. Dalam relasi persahabatan, cinta seperti ini menyebabkan pelbagai kekecewaan dan kalaupun ada kegembiraan dan kebahagiaan itu hanyalah sementara atau bahkan tidak yang sebenarnya. Dalam bahasa Latin cinta seperti ini disebut “do ut des” (saya memberi supaya saya menerima atau supaya saya mendapatkan balasan). Dalam pengertian transaksional, maka cinta ini berarti saling berhitung. Saya telah memberi sekian banyak, maka saya juga berhak menerima sekian banyak. Begitu banyak orang kecewa karena balasan yang diharapkannya tidak terwujud dan oleh karena itu banyak persahabatan berakhir dengan kekecewaan.

Dalam relasi perkawinan, cinta transaksional ini juga sudah sangat merasuk. Bagaikan sebuah kontrak antara hak dan kewajiban. Seorang istri yang meminta cerai menyampaikan kekecewaannya kepada pastor: “Apa yang telah diberikannya sejak kami menikah? Semua yang dia janjikan tidak ada yang dipenuhinya. Lebih baik pisah supaya tidak lebih kecewa lagi”. Sebuah lelucon diungkapkan dalam media sosial face book: “Banyak wanita yang menderita diabetes karena terlalu banyak memakan janji manis…”

Demikianlah sekedar mengungkapkan kenyataan mengenai relasi cinta transaksional. Tentu saja hal ini dialami dalam lingkungan pekerjaan. Adalah sepatutnya bila dalam bekerja ada kontrak kerja, ada job description dan ada kompensasi. Ini adalah standard yang mesti dijalankan. Ada kewajiban dan hak. Akan tetapi dalam rangka mendalami budaya cinta ini kita ingin memberi makna yang lebih dalam lagi. Pekerjaan bukan hanya sebuah transaksi kewajiban dan hak, tapi sebagai perbuatan cinta yang melampaui job description.

Dalam Injil Yesus berkata : “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna?” (Mat. 5:46-48). Atau dalam Injil Lukas 6:36, Yesus mengatakan: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

Contoh lain lagi dalam Injil bisa kita baca dalam Matius 5:41 :”Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” Inilah yang disebut “to go the extra miles”. Memberi lebih dari yang diminta, dan melakukan lebih daripada yang dituntut. Dalam hal inilah kita disebut sebagai anak-anak Tuhan. Inilah “culture of love” yang ingin kita hidupi di Unika De La Salle Manado. Inilah “the true Lasallian culture”. Kalau kita kemudian berkata dalam hati, “sangat sulit menghidupi budaya seperti ini”, maka lanjutkanlah ungkapan hati kita dengan berkata, “kalau tidak bisa seperti ini, apa bedanya saya dengan orang-orang yang tidak mempunyai budaya ini?”

Dalam sebuah renungan misa hari Minggu seorang pastor menceritakan pengalamannya di sekolah. Para murid SD kelas 6 diminta membuat presentasi dalam bentuk power point, perbedaan “hukum yang tertulis” dan “hukum cinta kasih”. Pada waktu presentasi di kelas, murid-murid ini menampilkan contoh “hukum yang tertulis” dengan menampilkan foto-foto peraturan yang mereka jumpai di mana-mana. Ada foto peraturan “dilarang parkir” tapi justru kendaraan diparkir di situ. Ada juga foto peraturan “dilarang buang sampah di sini” tapi ternyata begitu banyak sampah yang dibuang di situ.

Lalu murid-murid ini kemudian menampilkan foto-foto ruang dalam sebuah rumah yang bersih dan rapih, dan juga foto halaman rumah yang bersih dan asri. Di sana tidak ada papan peraturan “jagalah kebersihan” atau “jangan membuang sampah sembarangan”, tapi toh tempatnya begitu bersih dan rapih. Kesimpulannya, kalau ada cinta yang tulus, maka tanpa perintah dan larangan, orang akan tergerak hati untuk mengupayakan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain.

Spirit cinta seperti ini yang ingin kita bangun bersama di Unika De La Salle sebagai satu keluarga atau satu komunitas (community). Budaya cinta yang melayani. Bila suatu pekerjaan dilaksanakan hanya karena job description, maka secara professional dapat dikatakan sudah terpenuhi. Akan tetapi kita tidak ingin hanya professional tapi “to go beyond professionalism” yaitu “the extra miles”. Disuruh berjalan satu kilometer, saya mau berjalan dua kilometer. Inilah yang disebut dalam spiritualitas Lasallian sebagai “the spirit of service”, atau melayani.

Teaching is an act of love, an act of service. Mengajar bukan soal transaksi. Karena mahasiswa telah membayar, maka saya harus mengajar. Perhitungannya, kalau saya tidak masuk satu kali, maka saya harus melunasinya dengan “make up class”. Sesederhana itu. Namun kalau mengajar adalah ungkapan cinta kasih, maka bukan soal lagi berapa jam saya masuk dan berapa jam yang saya harus lunasi bila saya tidak masuk. Ada tanggungjawab yang lebih lagi yakni untuk masuk pada waktunya, menjadi teladan mengenai kedisiplinan, memberi perhatian khusus bagi mahasiswa yang kurang mampu menangkap, mencari mahasiswa yang tidak masuk kelas, terus mengembangkan pengetahuan saya agar sungguh menguasai materi yang saya ajarkan, mengembangkan metode mengajar saya supaya mahasiswa sungguh terbantu untuk secara maksimal memahami kuliah yang diberikan. Mempersiapkan bahan kuliah sebaik mungkin, dan melayani mahasiswa yang ingin bertanya dan mendalami materi yang diberikan.

Diungkapkan dengan bagus oleh Dr Tolentino, seorang pendidik asal Filipina, “Teaching is a self-giving, a giving of self, and a life of giving”. Mengajar adalah sebuah pemberian diri, memberikan diri sendiri, dan suatu kehidupan yang selalu memberi. St John Baptist De La Salle menyebutnya sebagai sebuah panggilan “to teach, to touch, to transform”. Kalau diungkapkan secara lain menurut ungkapan St Fransiskus Asisi, maka ungkapan ini dapat menjadi, “dengan mengajar kita diajar, dengan menyentuh kita disentuh, dan dengan membaharui kita diperbaharui”. Dengan demikian para pendidik menjalankan panggilannya sebagai “minister and ambassador of God”, “the guardian angels of students”.

Prinsip-prinsip Lasallian Culture seperti ini tentu saja berlaku bagi siapa saja yang berkarya dalam institusi pendidikan De La Salle, termasuk para karyawan kantor, pekerja bagian teknis, kebersihan dan keamanan. Semuanya adalah bentuk pemberian diri dalam pelayanan. Hal-hal ini akan kelihatan sangat sukar dan ideal tanpa apa yang disebut “the wings of love” (sayap cinta). Sayap berfungsi untuk meringankan, mengangkat, meninggikan. Tanpa semangat cinta kasih tentu segala sesuatu yang kita buat akan terasa berat. Kompensasi atau remunerasi akan meringankan, tetapi hanya sesaat. Karena ketika transaksi berakhir, batas kewajiban dan hak telah terpenuhi, padahal masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, orang akan merasa berat dan terbebani.

Visi dari Unika De La Salle antara lain agar di dalamnya orang menemukan kehidupan yang bermakna (meaningful life). Pemaknaan ini sangat dimungkinkan oleh adanya spiritualitas. Yang perlu kita upayakan adalah memberdayakan spiritualitas ini, yakni “the spirit of faith, service, community” atau disebut Lasallian Spirit. Spirit inilah yang menjadi LPG kita, gas, energi yang membakar, menghidupkan dan memberdayakan. Dikatakan dalam Injil Yoh. 2:17, “Cinta akan rumahMu menghanguskan Aku”.

Bagi para mahasiswa diharapkan visi pemaknaan hidup melalui Lasallian spirit dapat diperdalam selama mengenyam pendidikan di Unika De La Salle. Sekaligus juga menjadi pegangan untuk menyadari adanya “transactional love” dalam relasi dan tidak terjerumus di dalamnya. Juga pegangan untuk menghadapi apa yang disebut “relativisme”, yakni budaya merelativir dan menjadikan se-saat (temporary) semua idealisme, termasuk faith.

Semoga budaya cinta, budaya pelayanan yang terkandung dalam Lasallian Spirit ini menjadi pembakar semangat untuk terus berkarya, sebagaimana komitmen kita dalam Lasallian prayer, “I will continue oh my God to do all my action for the love of You”

 

St. John Baptist De La Salle, pray for us. Live Jesus in our hearts forever.

Fr Revi Tanod

 




Related News :
Comment